PON-PES SALAFIYAH

SAjian deloan

Loading...
copyright@pon-pes al-falah sekampung/rizal. Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Ada kesalahan di dalam gadget ini

IDENTITAS BLOGER'S MAN

Foto Saya
SEKAMPUNG, LAMPUNG TENGAH, Indonesia
assalamualaikum..... hai sobat ne aq, ank dari sekampung, gimana bagus gax..?

IWAK

Pengikut

tanggalan islami

Ada kesalahan di dalam gadget ini
RSS

makalah koloid


A. KOLOID
            Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar). Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat khas yang berbeda dari sifat larutan atau suspensi.
Keadaan koloid bukan ciri dari zat tertentu karena semua zat, baik padat, cair, maupun gas, dapat dibuat dalam keadaan koloid.
Sistem koloid sangat berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Cairan tubuh, seperti darah adalah sistem koloid, bahan makanan seperti susu, keju, nasi, dan roti adalah sistem koloid. Cat, berbagai jenis obat, bahan kosmetik, tanah pertanian juga merupakan sistem koloid. Karena sistem koloid sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari, kita harus mempelajarinya lebih mendalam agar kita dapat menggunakannya dengan benar dan dapat bermanfaat untuk diri kita.

          Koloid adalah suatu sistem campuran “metastabil” (seolah-olah stabil, tapi akan memisah setelah waktu tertentu). Koloid berbeda dengan larutan; larutan bersifat stabil.
          Di dalam larutan koloid secara umum, ada 2 zat sebagai berikut :
- Zat terdispersi, yakni zat yang terlarut di dalam larutan koloid
- Zat pendispersi, yakni zat pelarut di dalam larutan koloid

Berdasarkan fase terdispersi maupun fase pendispersi suatu koloid dibagi sebagai berikut :

Fase Terdispersi
Pendispersi
Nama koloid
Contoh
Gas
Gas
Bukan koloid, karena gas bercampur secara homogen
Gas
Cair
Busa
Buih, sabun, ombak, krim kocok
Gas
Padat
Busa padat
Batu apung, kasur busa
Cair
Gas
Aerosol cair
Obat semprot, kabut, hair spray di udara
Cair
Cair
Emulsi
Air santan, air susu, mayones
Cair
Padat
Gel
Mentega, agar-agar
Padat
Gas
Aerosol padat
Debu, gas knalpot, asap
Padat
Cair
Sol
Cat, tinta
Padat
Padat
Sol Padat
Tanah, kaca, lumpur






B. Sifat Koloid
  a. Efek Tyndall
                            Efek Tyndall adalah penghamburan cahaya oleh larutan koloid, peristiwa di mana jalannya sinar dalam koloid dapat terlihat karena partikel koloid dapat menghamburkan sinar ke segala jurusan.
          Efek Tyndall merupakan satu bentuk sifat optik yang dimiliki oleh          sistem koloid. Pada tahun 1869, Tyndall menemukan bahwa    apabila suatu berkas cahaya dilewatkan pada sistem koloid maka        berkas cahaya tadi akan tampak. Tetapi apabila berkas cahaya yang           sama dilewatkan pada dilewatkan pada larutan sejati, berkas                    cahaya tadi tidak akan tampak. Singkat kata efek Tyndall     merupakan efek penghamburan cahaya oleh sistem koloid.
Contoh: sinar matahari yang dihamburkan partikel koloid di angkasa, hingga langit berwarna biru pada siang hari dan jingga pada sore hari ; debu dalam ruangan akan terlihat jika ada sinar masuk melalui celah.

  b. Gerak Brown
                            Gerak Brown adalah gerak partikel koloid dalam medium pendispersi secara terus menerus, karena adanya tumbukan antara partikel zat terdispersi dan zat pendispersi. Karena gerak aktif yang terus menerus ini, partikel koloid tidak memisah jika didiamkan.
          Sistem koloid juga mempunyai sifat kinetik selain sifat optic yang telah dijelaskan diatas. Sifat kinetik ini dapat terjadi karena         disebabkan oleh gerakan termal dan gravitasi. Dua hal ini menyebabkan sistem koloid dapat bergerak zig-zag. Gerakan ini     pertama ditemukan oleh seorang ahli biologi yang bernama Robert     Brown yang melakukan pengamatan pada serbuk sari dengan         menggunakan mikroskop, sehingga dinamakan gerak Brown.
  c. Adsorbsi Koloid
                            Adsorbsi Koloid adalah penyerapan zat atau ion pada permukaan koloid. Sifat adsorbsi digunakan dalam proses:
          1. Pemutihan gula tebu.
          2. Norit.
          3. Penjernihan air.

          Contoh: koloid antara obat diare dan cairan dalam usus yang akan          menyerap kuman  penyebab diare. Koloid Fe(OH)3 akan     mengadsorbsi ion H+ sehingga menjadi bermuatan +. Adanya    muatan senama maka koloid Fe(OH), akan tolak-menolak           sesamanya  sehingga partikel-partikel koloid tidak akan saling       menggerombol.
         
          Koloid As2S3 akan mengadsorbsi ion OH- dalam larutan sehingga   akan bermuatan - dan tolak-menolak dengan sesamanya, maka      koloid As2S3 tidak akan menggerombol.   
          Beberapa sistem koloid mempunyai sifat dapat melakukan             penyerapan (adsorbsi) terhadap partikel atau ion atau senyawa lain.        Penyerapan pada permukaan disebut adsorbsi, sedangkan    penyerapan sampai pada lapisan dalam disebut absorbsi. Daya           penyerapan ini menyebabkan beberapa sistem koloid mempunyai muatan tertentu sesuai muatan yang diserap.
  d. Muatan Koloid dan Elektroforesis
                            Muatan Koloid ditentukan oleh muatan ion yang terserap permukaan koloid. Elektroforesis adalah gerakan partikel koloid karena pengaruh medan listrik. Karena partikel koloid mempunyai muatan maka dapat bergerak dalam medan           listrik. Jika ke dalam koloid dimasukkan arus searah melalui elektroda, maka  koloid bermuatan positif akan bergerak menuju elektroda negatif dan sesampai di elektroda negatif akan terjadi penetralan muatan dan koloid akan   menggumpal (koagulasi). Contoh: cerobong pabrik yang dipasangi lempeng logam yang bermuatan           listrik dengan tujuan untuk menggumpalkan debunya.
        
  e. Koagulasi Koloid
                             Koagulasi koloid adalah penggumpalan koloid karena elektrolit yang muatannya berlawanan. Contoh: kotoran pada air yang digumpalkan oleh tawas sehingga air menjadi jernih.
                   Faktor-faktor yang menyebabkan koagulasi:
   § Perubahan suhu.
   § Pengadukan.
   § Penambahan ion dengan muatan besar (contoh: tawas).
   § Pencampuran koloid positif dan koloid negatif.
                   Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara:
          1. Mekanik
                   Cara mekanik dilakukan dengan pemanasan, pendinginan     atau pengadukan cepat.
         
          2. Kimia
                   Dengan penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam).
          Contoh: susu + sirup masam —> menggumpal
          lumpur + tawas —> menggumpal
          Dengan mencampurkan 2 macam koloid dengan muatan yang        berlawanan. Contoh: Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan        menggumpal jika dicampur As2S3 yang bermuatan negatif.
          Koagulasi atau pengendapan/penggumpalan yang disebabkan oleh          gaya gravitasi akan terjadi jika sistem koloid dalam keadaan tidak     bermuatan. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid     bersifat netral, yaitu:
1. Menggunakan Prinsip Elektroforesis. Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid yang bermuatan ke elektrode dengan muatan yang berlawanan. Ketika partikel ini mencapai elektrode, maka sistem koloid akan kehilangan muatannya dan bersifat netral.
2. Penambahan koloid lain dengan muatan yang berlawanan. Ketika koloid bermuatan positif dicampurkan dengan koloid bermuatan negatif, maka muatan tersebut akan saling menghilangkan dan bersifat netral.
3. Penambahan Elektrolit. Jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid, maka partikel koloid yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid dengan muatan positif (kation) dari elektrolit. Begitu juga sebaliknya, partikel positif akan mengadsorpsi partikel negatif (anion) dari elektrolit. Dari adsorpsi diatas, maka terjadi koagulasi.
4. Pendidihan. Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan tumbukan antar partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air bertambah banyak. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi pada permukaan koloid. Akibatnya partikel tidak bermuatan.
  f. Koloid Liofil dan Koloid Liofob
         1. Koloid Liofil
                   Koloid Liofil adalah koloid yang mengadsorbsi cairan,          sehingga terbentuk selubung di sekeliling koloid.
          Contoh: agar-agar.
           
         
          2. Koloid Liofob
                   Koloid Liofob adalah kolid yang tidak mengadsorbsi cairan. Agar muatan koloid stabil, cairan pendispersi harus bebas dari          elektrolit dengan cara dialisis, yakni pemurnian medium        pendispersi dari elektrolit.

  g. Emulasi
                    Emulasi adalah kolid cairan dalam medium cair. Agar larutan kolid stabil, ke dalam koloid biasanya ditambahkan          emulsifier, yaitu zat penyetabil agar koloid stabil. Contoh: susu        merupakan emulsi lemak di dalam air dengan kasein sebagai           emulsifier.

  h. Kestabilan Koloid
         a. Banyak koloid yang harus dipertahankan dalam bentuk koloid   untuk          penggunaannya. Contoh: es krim, tinta, cat. Untuk itu digunakan koloid lain yang dapat membentuk lapisan di sekeliling       koloid tersebut. Koloid lain ini disebut koloid pelindung. Contoh:      gelatin pada sol Fe(OH)3.

         b. Untuk koloid yang berupa emulsi dapat digunakan emulgator     yaitu zat yang  dapat tertarik pada kedua cairan yang membentuk       emulsi Contoh: sabun deterjen sebagai emulgator dari emulsi    minyak dan air.

  i. Pemurnian Koloid
                   Untuk memurnikan koloid yaitu menghilangkan ion-ion                           yang  mengganggu kestabilan koloid, dapat dilakukan cara dialisis.                   Koloid yang akan dimurnikan dimasukkan ke kantong yang terbuat                  dari selaput semipermeabel yaitu selaput yang hanya dapat dilewati             partikel ion saja dan tidak dapat dilewati molekul koloid. Contoh:              kertas perkamen, selopan atau kolodion. Kantong koloid                          dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air mengalir, maka ion-              ion dalam koloid akan keluar dari kantong dan keluar dari bejana                   dan koloid tertinggal dalam kantong. Proses dialisis akan di                           percepat jika di dalam bejana diberikan arus listrik yang disebut                  elektro dialisis.

                    Proses pemisahan kotoran hasil metabolisme dari darah oleh          ginjal termasuk proses dialisis. Maka apabila seseorang menderita       gagal ginjal, orang tersebut harus menjalani “cuci darah” dengan          mesin dialisator di rumah sakit. Koloid juga dapat dimurnikan           dengan penyaring ultra.
C. Pembuatan Sistem Koloid
     a. Cara Kondensasi 
                    Pembuatan sistem koloid dengan cara kondensasi dilakukan dengan cara           penggumpalan partikel yang sangat kecil. Penggumpalan partikel ini dapat  dilakukan dengan cara sebagai       berikut:
          1. Reaksi Pengendapan
             Pembuatan sistem koloid dengan cara ini dilakukan dengan                  mencampurkan larutan elektrolit sehingga menghasilkan    endapan. Contoh: AgNO3 + NaCl —> AgCl(s) + NaNO3
         
          2. Reaksi Hidrolisis
             Reaksi hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Sistem         koloid dapat dibuat dengan mereaksikan suatu zat dengan air.
             Contoh: AlCl3 +H2O —> Al(OH)3(s) + HCl
         
          3. Reaksi Redoks
             Pembuatan koloid dapat terbentuk dari hasil reaksi redoks.         Contoh: pada larutan emas Reaksi: AuCl3 + HCOH —> Au +   HCl + HCOOH Emas formaldehid
         
          4. Reaksi Pergeseran
             Contoh: pembuatan sol As2S3 dengan cara mengalirkan gas H2S ke dalam laruatn H3AsO3 encer pada suhu tertentu.
             Reaksi: 2 H3AsO3 + 3 H2S —> 6 H2O + As2S3
         
          5. Reaksi Pergantian Pelarut
             Contoh: pembuatan gel kalsium asetat dengan cara   menambahkan alkohol 96% ke dalam larutan kalsium asetat   jenuh.

    b.Cara Dispersi
                    Pembuatan sistem koloid dengan cara dispersi dilakukan       dengan memperkecil partikel suspensi yang terlalu besar menjadi        partikel koloid, pemecahan partikel-partikel kasar menjadi koloid.
         1. Cara Mekanik
             Ukuran partikel suspensi diperkecil dengan cara penggilingan zat         padat, dengan menghaluskan butiran besar kemudian diaduk    dalam medium pendispersi. Contoh: Gumpalan tawas digiling,        dicampurkan ke dalam air akan membentuk koloid dengan              kotoran air. Membuat tinta dengan menghaluskan karbon pada penggiling koloid kemudian didispersikan  dalam air. Membuat     sol belerang dengan menghaluskan belerang bersama  gula (1:1)        pada penggiling koloid, kemudian dilarutkan dalam air, gula              akan larut dan belerang menjadi sol.

          2. Cara Peptisasi
             Pembuatan koloid dengan cara peptisasi adalah pembuatan        koloid dengan menambahkan ion sejenis, sehingga partikel        endapan akan dipecah. Contoh: sol Fe(OH)3 dengan menambahkan FeCl3. sol NiS dengan menambahkan H2S. Karet dipeptisasi oleh bensin, agar-agar dipeptisasi oleh air, endapan   Al(OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3.

         3. Cara Busur Bredia/Bredig
             Pembuatan koloid dengan cara busur Bredia/Bredig dilakukan    dengan mencelupkan 2 kawat logam (elektroda) yang dialiri       listrik ke dalam air, sehingga kawat logam akan membentuk          partikel koloid berupa debu di dalam air.

         4. Cara Ultrasonik
             Yaitu penghancuran butiran besar dengan ultrasonik(frekuensi >          20.000Hz)
          Campuran heterogen.
          Campuran homogen disebut larutan, contoh: larutan gula dalam air.        Campuran heterogen dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:    Sistem koloid termasuk dalam bentuk campuran. Campuran terbagi menjadi 2, yaitu:
          1. Suspensi, contoh: pasir dalam air.
          2. Koloid, contoh: susu dengan air.

D. Komponen Penyusun Koloid
          1. Fase kontinyu : medium pendispersi jumlahnya lebih banyak.
          2. Fase diskontinyu : medium terdispersi jumlahnya labih banyak.

E. Bentuk Partikel Koloid
          1. Bulatan : misalnya virus, silika.
          2. Batang : misalnya virus.
          3. Piringan : misalnya globulin dalam darah.
          4. Serat : misalnya selulosa.




F. Penggunaan Sistem Koloid
          1. Obat-obatan : salep, krim, minyak ikan.
          2. Makanan : es krim, jelly dan agar-agar.
          3. Kosmetik : hair cream, skin spray, body lotion.
          4. Industri : tinta, cat.

G. Beberapa Macam Koloid
  1. Aerosol
      Adalah sistem koloid di mana partikel padat atau cair terdispersi dalam gas. Contoh: Aerosol padat: debu, asap. Aerosol cair: kabut, awan. Bahan pendingin dan pendorong yang sering digunakan adalah Kloro Fluoro Karbon (CFC).

  2. Emulsi
      Adalah sistem koloid di mana zat terdispersi dan pendispersi adalah zat cair yang tidak dapat bercampur. Misalnya: Emulsi minyak dalam air: santan, susu, lateks, minyak ikan. Emulsi air dalam minyak: mentega, minyak rambut, minyak bumi.
Untuk membentuk emulsi digunakan zat pengemulsi atau emulgator yaitu zat yang dapat tertarik oleh kedua zat cair tersebut.
Contoh: sabun untuk mengemulsikan minyak dan air.
kasein sebagai emulgator pada susu.

  3. Sol
      Adalah suatu sistem koloid di mana partikel padat terdispersi dalam zat cair.

No.
Hidrofob
Hidrofil
a.
Tidak menarik molekul air tetapi mengadsorbsi ion
Menarik molekul air hingga menyelubungi partikel terdispersi
b.
Tidak reversible, apabila mengalami koagulasi sukar menjadi sol lagi
Reversibel, bila mengalami koagulasi akan dapat membentuk sol lagi jika ditambah lagi medium pendispersinya
c.
Biasanya terdiri atas zat anorganik
Biasanya terdiri atas zat organik
d.
Kekentalannya rendah
Kekentalannya tinggi
e.
Gerak Brown terlihat jelas
Gerak Brown tidak jelas
f.
Mudah dikoagulasikan oleh elektrolit
Sukar dikoagulasikan oleh elektrolit
g.
Umumnya dibuat dengan cara kondensasi
Umumnya dibuat dengan cara dispersi
h.
Efek Tyndall jelas
Efek Tyndall kurang jelas
i.
Contoh: sol logam, sol belerang, sol Fe(OH)3, sol As2S3, sol sulfida
Contoh: sol kanji, sol protein, sol sabun, sol gelatin

  4. Gel/Jel
      Adalah koloid liofil setengah kaku. Contoh: agar-agar, lem kanji, selai, jelly untuk menata rambut.

  5. Buih
      Adalah sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair. Contoh: sabun, detergen, protein. Zat-zat yang dapat memecah/mencegah buih yaitu eter, isoamil alkohol.

H.SABUN/DETERGEN
  Adalah zat yang molekulnya terdiri atas hidrofob dan sekaligus gugus hidrofil.

I. PENJERNIHAN AIR SUNGAI
  1. Air sungai mengandung lumpur ditambah tawas ® air jernih.
  2. Air jernih ditambah kaporit ® air jernih bebas kuman.
  3. Air jernih bebas kuman disaring ® air bersih.























 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar